METRO, LAMPUNG — Suasana haru, bangga, dan khidmat menyelimuti Masjid At-Tibyan, kompleks Pondok Pesantren Roudlatul Qur’an (PPRQ) Lampung, pada Sabtu malam (2/5/2026). Di tempat yang penuh barokah ini, 23 santriwan dan santriwati secara resmi diwisuda dalam acara puncak Tasyakuran Khataman Amtsilati Angkatan Ke-VI Tahun 2026. Acara ini bukan sekadar perayaan kelulusan, melainkan pembuktian bahwa PPRQ Lampung secara konsisten selama enam tahun terakhir terus melahirkan generasi yang mumpuni dalam menguasai literatur Islam klasik, khususnya melalui metode cepat membaca kitab kuning.
Malam istimewa ini dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan dan tokoh penting pesantren, di antaranya Umina Nyai Hj. Siti Rumzanah; Pimpinan PPRQ Gus H. M. Yahya Musthofa Kamal, S.Ag., M.Pd., Al-Hafidz; Ketua Yayasan PPRQ H. Benny Musthofa, S.H., M.M.; Pengasuh PPRQ 2 KH. Mustamar Aziz, S.H., Al-Hafidz; Dewan Tahkim PPRQ KH. Musthofa, S.Pd.I.; Direktur TMI PPRQ sekaligus Ketua LP Ma’arif NU Kota Metro Ky. Saiful Hadi, S.Si.; segenap jajaran Dewan Pengasuhan; serta Ustad Herman Susilo, S.Pd.I selaku Penanggung Jawab Pembelajaran sekaligus Pengajar Amtsilati.
Dipandu secara apik oleh pembawa acara Uki dan Rayan, kegiatan diawali dengan pembacaan Ummul Qur’an dan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Saudara Nafis. Rasa cinta tanah air dan identitas santri turut dikobarkan melalui nyanyian lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mars Syubbanul Wathon, dan Mars PPRQ yang dipimpin oleh dirigen Saudari Jesika.
Memasuki acara inti, prosesi wisuda serta penyerahan syahadah (sertifikat) dan medali berlangsung penuh haru. Penghargaan tersebut diserahkan secara bergantian oleh Umina Nyai Hj. Siti Rumzanah, Gus H. M. Yahya Musthofa Kamal, H. Benny Musthofa, Ky. Saiful Hadi, serta Ustad Herman Susilo.
Momen paling mendebarkan sekaligus membanggakan bagi hadirin adalah ketika tiba sesi uji publik. Dalam sesi ini, para tamu undangan dipersilakan memberikan pertanyaan secara langsung dan acak kepada para wisudawan. Mengingat Amtsilati merupakan metode cepat belajar membaca kitab kuning, pertanyaan-pertanyaan yang diujikan berfokus secara mendalam seputar kaidah Nahwu dan Shorof. Luar biasanya, para santri mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit dari para penguji dengan sangat lugas. Hal ini membuktikan bahwa gemblengan Ustad Herman Susilo selaku pengajar Amtsilati benar-benar membuahkan hasil yang gemilang.
Keberhasilan santri dalam menjawab ujian publik tersebut mendapat apresiasi luar biasa dari Gus H. M. Yahya Musthofa Kamal. Dalam sambutannya, beliau menyebut kecerdasan para santri pada malam itu sebagai anugerah dari Allah SWT. Gus Yahya menguraikan betapa esensialnya ilmu alat dalam mendalami agama. Beliau mencontohkan fenomena tokoh ulama Nusantara seperti KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha), yang majelis taklimnya dihadiri tidak hanya oleh santri awam, tetapi juga oleh para profesor dan doktor.
Menurut Gus Yahya, sehebat apapun gelar akademik seseorang, sekalipun bergelar profesor, apabila bertemu dengan Kyai alim yang menguasai kitab kuning dan ilmu alat secara utuh, kecerdasannya pasti akan tertandingi. Mengkaji ilmu alat ini hukumnya adalah fardu kifayah. Oleh karena itu, Gus Yahya memberikan peringatan sekaligus doktrin positif kepada para santri agar tidak mudah terbuai dengan gelar akademik duniawi. Beliau menegaskan bahwa memiliki gelar tinggi namun tidak pernah ngaji adalah sebuah kesia-siaan, dan berpesan keras agar kelak ketika keluar dari pesantren, baik untuk kuliah maupun berprofesi sebagai abdi negara, santri dilarang keras meninggalkan kebiasaan ngaji.
Pesan mendalam juga disampaikan oleh Pengasuh PPRQ 2, KH. Mustamar Aziz. Dalam Mauidhoh Hasanah-nya, beliau membakar semangat para pemuda dengan mengutip pepatah Syubbanul yaum rijalul ghod, yang berarti pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan.
Beliau meminta para santri untuk menggantungkan cita-cita setinggi bintang Tsuroyya. Namun di balik tingginya cita-cita, KH. Mustamar menitikberatkan pada pentingnya menjaga adab kepada guru. Beliau mengingatkan bahwa di tengah masyarakat tantangannya sangat banyak; maka sepintar apapun santri di pesantren, ketika keluar harus mendapat ridho guru secara utuh, tidak boleh nyelonong, dan jangan sampai membuat guru marah (bendu) agar ilmu yang didapat menjadi berkah.
Melengkapi untaian nasihat malam itu, Direktur TMI PPRQ Ky. Saiful Hadi menyampaikan pesan filosofis sebelum memimpin doa penutup.
Beliau mengibaratkan ilmu sebagai garam dan adab sebagai tepung. Artinya, adab harus porsinya lebih banyak dan mendominasi sebagai fondasi pembentuk karakter (tepung), sedangkan ilmu hadir untuk memberikan rasa dan hidayah petunjuk (garam).
Beliau mewanti-wanti agar tingginya ilmu tidak lantas membuat santri menjadi sombong, melainkan harus siap membumi menjadi agen perubahan yang rendah hati di tengah umat.
Rangkaian acara yang diabadikan oleh tim dokumentasi RQ Media Production ini ditutup dengan doa bersama dan musafahah. Sebagai informasi, bagi masyarakat luas yang ingin putra-putrinya mendapatkan pendidikan agama yang kokoh dan beradab, Pondok Pesantren Roudlatul Qur’an Lampung saat ini masih membuka pendaftaran santri baru yang dapat diakses melalui portal resmi https://psb.pprq.sch.id/.
Daftar 23 Santriwan-Santriwati Wisudawan Amtsilati Angkatan Ke-VI Tahun 2026:
- Khenanda Alfi Nugraha bin Bpk. Rubangi (Alm) – Banjar Agung, Tulang Bawang
- Ridho Fadhilah bin Bpk. Suharin – Mesuji Timur, Mesuji
- Muhammad Iqbal Kurniawan bin Bpk. Amir Mahmud – Rawajitu Utara, Mesuji
- Wahyu Reja Kurniawan bin Bpk. Bagiyo – Kwantan Singingi, Riau
- Ghitsya Mezalunna Arie Sandy binti Bpk. Tofan Arie Sandy – Belitang 2, OKU Timur
- Dzakira Widiawati binti Bpk. Edi Widodo – Sukarame, Bandar Lampung
- Dwi Suci Cahyani binti Bpk. Warsito (Alm) – Seputih Raman, Lampung Tengah
- Diah Ayu Suci Ningtyas binti Bpk. Ahmad Soip – Kota Baru, Way Kanan
- Ani Zaskia Putri binti Bpk. Supriyanto – Simpang Pematang, Mesuji
- Cahya Gesa Ameliani binti Bpk. Sutrisno – Rawapitu, Tulang Bawang
- Citra Septia Bela binti Bpk. Supriadi – Gunung Batin Baru, Terusan Nunyai, Lampung Tengah
- Kireina Cahya Hadinantha binti Bpk. Suhadi Raka Siwi – Tulang Bawang Tengah, Tulang Bawang Barat
- Nada Ayu Sherina binti Bpk. Supriyanto – Gunung Agung, Tulang Bawang Barat
- Nadia Cahya Ramadani binti Bpk. Sutopo – Dente Teladas, Tulang Bawang
- Aulia Sivatun Azaahra binti Bpk. Satra – Metro Selatan, Kota Metro
- Siti Mar’atus Solehah binti Bpk. Muhammad Nasirudin – Pematang Pasir, Lampung Selatan
- Asyifau Shoimah binti Bpk. Agus Sugito – Srigading, Labuhan Maringgai, Lampung Timur
- Rahel Laita Vigi Oktavia binti Bpk. Muhammad Faisal – Rawajitu Selatan, Tulang Bawang
- Aisyah Fatya Putri binti Bpk. Muhajir – Simpang Pematang, Mesuji
- Della Noviana binti Bpk. Sutrisno – Gunung Agung, Tulang Bawang Barat
- Luthfiah Zulfa binti Bpk. Kiki Pribadi, S.Pd.I – Teluk Betung, Bandar Lampung
- Dwi Av Dita Nur Wulandari binti Bpk. Junaidi – Mesuji Timur, Mesuji
- Lintang Alisya Ramadani binti Bpk. Bambang Purwanto – Batam, Kepulauan Riau
Penulis/Peliput: Kgs. Anang Ghozali, S.Pd.





